“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS.42:20)
Dari Ayat tersebut di atas, kita ketahui bahwa Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, maka Allah akan memberikan keberkahan rizki, serta menjaganya dan Allah juga akan melipat gandakannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, atau sesuai dengan kehendak Allah.
Dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kamu berikan kepaanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. Dengan arti lain bahwa apabila hamba menyibukkan dirinya dengan urusan dunianya tanpa memikirkan ahiratnya, atau hamba yang selalu menimbang semua urusan dengan untung dan rugi (materi) dengan tanpa memikirkan ahirat, maka Allah hanya akan memberinya sebagian dari kenikmatan dunia dan tiada baginya keberuntungan atau pahala di akhirat.
Ayat ini juga senada dengan ayat 18-19 Surat Al- Isra’ yang artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS.17:18-19)
Dari firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 20 di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa;
1. Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berlaku adil dan moderat, sehingga memerintahkan umatnya untuk beribadah dan juga bekerja. Allah berfirman dalam surat Al-Qashash ayat 77. Abdullah bin Umar juga menyampaikan: “Bekerjalah yang giat untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup abadi, dan beribadahlah untuk bekal akhiratmu seakan-akan kamu mati besuk”
2. Allah juga mengutamakan hambaNya yang beramal dengan harapan pahala ahirat daripada hamba yang berorientasi pada dunia saja. Dalam enam bentuk:
a. Allah mendahulukan pencari akhirat dalam penyebutannya daripada pencari dunia
b. Bahwa Allah menjanjikan kepada pencari akhirat pahala atau balasan yang sangat melimpah dan sangat besar, akan tetapi Allah hanya akan memberikan sebagian kecil dari permintaan pencari dunia.
c. Allah tidak menyebutkan berapa besar pahala atau balasan yang akan diberikan kepada pencari akhirat, ini menunjukkan bahwa balasan yang akan diterimanya sangat besar. Tetapi untuk pencari Dunia Allah memberitahukan bahwa Allah akan memberikan sebagian kecil saja dan nantinya di akhirat dia tidak akan mendapatkan apapun.
d. Allah akan menambah dan melipat gandakan pahala bagi pencari pahal akhirat , sedangkan pencari kemewahan dunia hanya akan mendapatkan sebagian kecil dan tiada baginya pahala di akhirat.
e. Pahala Akhirat adalah balasan yang ditangguhkan, sedangkan kemewahan duniawi adalah kontan akan dirasakan. Kenikmatan dunia ini memang menggiurkan bagi sebagian manusia, hanya saja ternyata kemewahan dan kenikmatan yang ditundakan inilah yang sebenar-benarnya kenikmatan tiada tara. Dan bukankah kenikmatan yang telah Allah berikan itu nantinya akan berkurang dan terus berkurang, tapi bagi orang mukmin mereka menabung dan menabung.
f. Dan dari firman Allah ini, dapat kita ambil pelajaran juga bahwa untuk mendapatkan pahala dunia hingga akhirat ini memerlukan usaha yang sungguh-sungguh dan pengorbanan. Bukankah beramal untuk sesuatu yang berkembang dan kekal lebih baik daripada hanya untuk sesuatu yang habis dan binasa. Hanya saja kita sering terlena.
3. Bahwa sesungguhnya Allah akan selalu membuka pintu RahmatNya; menerima setiap permohonan dan pengharapan, menerima taubat dan permohonan ampun dari setiap dosa yang telah dilakukan. Dan Allah Maha Tahu dari setiap perbuatan manusia, baik yang terang-terangan ataupun yang tersembunyi, baik ataupun buruk. Perbuatan baik baginya pahala dan sebaliknya perbuatan dosa baginya siksa.
4. Amirul Mukminin Ali RA. Menyampaikan ada enam komponena agar taubat seseorang diterima oleh Allah: “Penyesalan yang sungguh-sungguh terhadap dosa masa lalu, melengkapi kewajiban-kewajiban yang telah ditinggalkan, mengembalikan hak-hak orang yang telah didzalimi, meleburkan dirinya dalam ketaatan seperti pada waktu ia larut dalam kemaksiatan, sanggup merasakan pahitnya dalam menjalankan ketaatan sebagaimana ia terlenakan dalam kemaksatan dan mengganti setiap tertawanya dengan tangisan.”
Semoga dengan kembali merenungi ayat-ayat Allah ini hati kita kembali tercerahkan dan menambah ilmu kita bekal amal kita. Amin.
Dokki-Giza, 050208 –FA-